Friday, February 10, 2012
Antara Benar dan Merasa Benar
Hari berganti kembali, semoga yang terlewat menjadi nasihat, dan kesempatan
yang diberi kembali menjadi bukti bahwa kita serius memperbaiki. Sungguh,
Bila kita telusuri, Setiap gerak, setiap sikap meninggalkan pelajaran,
andai diri sigap seharusnya setiap mentari pagi terbit semakin mendewasakan
diri.
Setiap kita selalu berusaha malakukan yang benar, namun siapakah diantara
kita yang berusaha menyesuaikannya dengan kebenaran ilahi.? Setiap kita
selalu mengaku siap melakukan kebenaran, namun siapakah yang siap menerima
teguran? Siapakah diantara kita yang lebih sibuk memperbaiki kekeliruan
daripada membenarkannya?
Siapa yang menyangka sebuah kekeliruan, Rasulullah SAW pun pernah
menilainya sebagai kebenaran, Ketika Rasulullah SAW fokus berdakwah kepada
bangsawan Quraisy, si miskin dan Buta Abdullah Bin Ummi Maktum datang ingin
bertanya terlihat seolah mengganggu, tabi'at kemanusiaannya pun terlihat
Beliau bermuka masam.
Namun saat Allah SWT menegur menurunkan surat 'abasa, tak sedikitpun Beliau
melakukan pembelaan meskipun memiliki alasan yang bisa
dipertanggungjawabkan.
Sungguh, Orang yang rugi bukan yang melakukan kekeliruan, tapi yang tidak
mendapat teguran, atau menolaknya dan tersinggung lalu memusuhinya.
Sahabat, Carilah teguran, jangan menghindarinya, have a nice day..
Continue Reading →
Monday, January 11, 2010
Kepergian Para Ayah
Acara kumpul-kumpul pun usai, sebagian dari kami mesti segera bergegas ke Pejompongan, daerah yang saya nggak tau lika-likunya. Saya ke sana untuk menghadiri acara ta’ziah 40 harian ayahnya teman saya di FHUI. Sebelum ke Pejompongan, saya nganterin Smita dulu ke Plaza Senayan, terus ngejemput Khalid di Ratu Plaza. Hari itu ojek saya sedang laris-manis rupanya..
Kedodolan pun terjadi, akibar dari pengetahuan yang minim soal Jakarta Pusat. Jadi, saya datang dari arah Gatot Subroto, dan di Pal Merah saya lupa belok, alhasil saya bablas sampai ke Tol Tomang-Slipi-Tangerang buat cari putaran balik arah. Bayangkan kawan, dengan kondisi mengendarai motor gerimis-gerimis itu saya hampir melintasi tiga provinsi sekaligus!! Pesan moral: Persiapkan amunisi sebaik mungkin sebelum Anda berangkat berperang, kalau tidak ingin bersimbah darah di medan tempur.
Alamat yang tidak lengkap, dan nomer handphone yang sulit dihubungi membuat kami kesulitan cari alamat. Akhirnya kami mampir di sebuah masjid, shalat maghrib, shalat isya, juga sekalian numpang neduh. Waktu menunjukkan pukul 20.30. Marbot masjid mulai mematikan lampu, tanda masjid mau tutup. HP saya bergetar, sms masuk, isinya berita duka cita lagi, ayah dari Arif Kurniawan, alumni 34 angkatan 2007, meninggal sore tadi selepas maghrib..
Kami pun tidak berhasil menemukan rumah teman kami (rumah kakeknya Thariq lebih tepatnya). Walopun tidak ikut tahlilan di rumah duka, kami tetap mendoakan almarhum dari masjid itu. Keesokan harinya saya menghadiri pemakaman ayahnya Arif di Andara, Pondok Labu. Tepat setelah shalat dzuhur, kami membentuk tiga shaf rapat untuk shalat jenazah. Setelah itu kami menuju pemakaman, Tangis pun pecah, berat memang ditinggalkan orang yang kita sayangi.
Sayup-sayup suara adzan terdengar, suasana hening dan haru menyelimuti pemakaman. Itu suara Arif, saya hafal betul warna suara itu, suara yang bersumber dari liang lahat, suara yang terdengar begitu lirih.. Serta-merta mata saya pun berkaca-kaca. Seketika saja ingatan saya tertarik ke lima tahun yang silam. Saat itu saya berusaha berdiri sekokoh mungkin, melantangkan suara adzan setegar mungkin, sekalipun hati pilu saat itu. Saya mengazankan almarhum ayah. Umur saya saat itu masih 17 tahun 8 bulan, namun sayalah anak tertua dari keluarga ini.
Saya terngiang akan sosok lelaki itu. Lelaki yang teduh tatap matanya, hangat senyumnya, dan lembut sikapnya. Lelaki yang lebih banyak berbicara lewat sikapnya dari pada lidahnya. Lelaki yang saya panggil ‘bapak’.. Belum banyak obrolan serius tercipta antara saya dengannya. Sepeninggalan beliau, saya baru menelusuri dirinya lebih jauh, lewat ibu saya, teman-temannya, dan siapa pun yang mengenalnya. Ternyata saya banyak mewarisi sifatnya, walopun secara fisik saya lebih cenderung ke ibu. Lelaki itu akan terus menginspirasi saya..
Ya Allah, ya Rabb, tempatkanlah Ayah-ayah kami di kedudukan yang mulia di sisi-Mu. Ampunkan segala khilaf dan salahnya. Persembahkan Jannah-Mu untuk mereka. Dan, jadikanlah kami anak yang saleh, anak yang bisa senantiasa membuat mereka tersenyum, sampai akhirnya nanti kami dipertemukan kembali.. Amiin.. Continue Reading →
Monday, November 2, 2009
Orang ke-100
Sebenernya ini tulisan kawan lawas gue momon, yang entah kenapa begitu mengena di ati gue akhir-akhir ini (tsaah..) Jadi gini, pernah ada orang yang nanya ke gue, “kenapa sih kita butuh pendamping hidup?”. Saat itu, gue pikir retoris banget dah tu pertanyaan. Bukankah setiap orang butuh pendamping dalam hidupnya? Kenapa harus ditanyain lagi “kenapa”?? Tapi kemudian gue berpikir, “KENAPA YAA??
Karena aku butuh seseorang untuk membuatku tersenyum…..
Tapi aku sudah punya 99 orang yang bisa membuatku tersenyum, jadi buat apa?
Karena aku butuh seseorang untuk membuatku tertawa…..
Tapi aku sudah punya 99 orang yang bisa membuatku tertawa, jadi buat apa?
Karena aku butuh seseorang untuk menghapus air mataku ketika aku sedih…….
Tapi aku sudah punya 99 orang yang bisa menghapus air mataku, jadi buat apa?
Karena aku butuh seseorang untuk menggenggam tanganku…..
Tapi aku sudah punya 99 orang yang bisa menggenggam tanganku, jadi buat apa?
Karena aku butuh seseorang untuk memelukku…..
Tapi aku sudah punya 99 orang yang bisa memelukku, jadi buat apa?
Karena aku butuh seseorang untuk menciumku….
Tapi aku sudah punya 99 orang yang bisa menciumku, jadi buat apa?
Karena aku butuh seseorang untuk mendengarkanku….
Tapi aku sudah punya 99 orang untuk mendengarkanku, jadi buat apa?
Karena aku butuh seseorang untuk membimbingku……
Tapi aku sudah punya 99 orang yang bisa membimbingku, jadi buat apa?
Karena aku butuh seseorang untuk kujadikan panutan…..
Tapi aku sudah punya 99 orang yang menjadi panutanku, jadi buat apa?
Karena aku butuh seseorang untuk memahamiku…..
Tapi aku sudah punya 99 orang yang bisa memahamiku, jadi buat apa?
Karena aku butuh seseorang untuk menemani langkahku….
Tapi aku sudah punya 99 orang yang bisa menemani langkahku, jadi buat apa?
Karena aku butuh seseorang untuk menghabiskan waktu bersamaku…..
Tapi aku sudah punya 99 orang yang mau menghabiskan waktu bersamaku, jadi buat apa?
Karena aku butuh seseorang yang bisa membantuku……
Tapi aku sudah punya 99 orang yang siap untuk membantuku, jadi buat apa?
Karena aku butuh seseorang untuk menyayangiku……
Tapi aku sudah punya 99 orang yang menyayangiku, jadi buat apa?
Karena aku butuh seseorang untuk mencintaiku…..
Tapi aku sudah punya 99 orang yang mencintaiku, jadi buat apa?
Kenapa ya? Kenapa aku tetap butuh kamu padahal aku sudah punya 99 orang itu? Apakah karena aku manusia yang tidak pernah puas? Kenapa ya?
Aku tahu kenapa….Karena bila ada kamu, maka jumlahnya akan mencapai 100. Angka yang sempurna.
Aku tahu kenapa…..Karena bila ada kamu, maka kamu akan menjadi orang keseratusku. Orang keseratus yang melengkapi kesembilan puluh sembilanku. Orang keseratus yang akan melengkapi hidupku, penggenap jiwaku, Orang keseratus yang membuat hidupku sempurna..
Dan saat aku sedih, kecewa, kalut dan emosi atas ketidaksempurnaanmu, aku akan mengingat pesan ini, betapa aku seharusnya berterimakasih padamu atas ketidaksempurnaanmu yang telah menyempurnakan hidupku……
Dan saat kamu sedih, kecewa, kalut dan emosi atas ketidaksempurnaanku, aku akan akui padamu bahwa aku memang tidak sempurna, kamulah yang membuat aku sempurna…….
PS : Pendamping hidupku, orang keseratusku, penyempurna hidupku, penggenap jiwaku...
Aku sudah tidak sabar ingin berjumpa denganmu. Salam cinta untukmu selalu. Aku menanti mu..
Continue Reading →
Monday, November 10, 2008
Kata Terurai Jadi Laku

Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya tua. Waktu
pertama kali masuk ke rumah wanita itu, hampir saja ia
percaya kalau ia berada di rumah hantu. Lelaki kaya
nan tampan itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia
menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada
tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan
mencintai perempuan itu. Apapun resikonya.
Suatu saat perempuan itu berkata padanya,
"Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah
ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya
membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan
menjadi seorang istri."
Tetapi lelaki itu malah menjawab,
"Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan
menikah lagi."
Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh
sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka dikaruniai
anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar
biasa. Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan
rahasia ini padanya. Lelaki itu pun menjawab enteng,
"Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha
melakukan yang terbaik. Perempuan itu pun melakukan
semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai
aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah
jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan hanyalah
kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik."
Insan ibarat bulan
Memiliki sisi kelam,
Yang sebenarnya tak ingin ditunjukkan pada siapapun.
Pun sungguh cukup bagi kita,
Memandang sejuknya permukaan bulan,
Pada sisi yang menghadap ke bumi..
Begitulah cinta ketika ia terurai jadi laku. Ukuran
integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati.
terkembang dalam kata. terurai dalam prilaku. Kalau hanya
berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak
berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta
yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata.
Kalau cinta sudah terurai jadi laku, cinta itu
sempurna seperti pohon, akarnya terhujam dalam hati,
batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam
laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati,
terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.
Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita
temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika
ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas
cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya
integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada
orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat
sepanjang kebersamaan.
Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan
dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus
menerus. Yang dilakukan para pecinta sejati disini
adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama
bukan karena perasaan cinta yang bersemi di dalam
hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan
oleh perasaan cinta itu.
Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya,
begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya,
yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta
tanpa henti. Cinta yang tidak terurai jadi prilaku adalah
jawaban atas angka-angka perceraian yang semakin
menganga lebar dalam masyarakat kita.
Tidak mudah memang menemukan cinta yang ini. Tapi
harus begitulah cinta, perlu dinyatakan dan lebih dari itu
dibuktikan.
Kata-kata lembut yang kita bisikkan pada pasangan kita,
Tersimpan di suatu tempat rahasia di surga.
Pada suatu hari, mereka akan berjatuhan bagai hujan,
Lalu tersebar dan tumbuh bersemi di segala
Penjuru bumi.. (Jalaaluddin Ar-Rumi)
Continue Reading →
Tuesday, June 24, 2008
Keterasingan
Apa yang ada di benak lo saat denger kata tersebut ? yang jelas, gw mbedain antara keterasingan ama kesendirian, karena saat sendiri belum tentu asing dan saat terasing belum tentu sepi. Ada saat-saat di tengah keramaian gw ngerasa asing (tsaaah...)
Gw termasuk orang yg nggak betah kalo liburan cuma diem-diem doang, gw pengen tiap detik yang gw lewatin punya nilai, apalagi liburan gini gw pengen melakukan hal2 baru yang beda ama biasanya, jadi gw coba2 kerja di suatu tempat di bilangan Thamrin walopun baru training. Kultur pas uda kerja ternyata beda banget dan suka nggak suka gw harus melakukan penyesuaian2. Gw merasa asing...
Besoknya gw ke kampus, dunia yang udah familiar bagi gw. Niatnya sih.. cuma mau ngenet memanfaatkan fasilitas hotspot, maklum di rumah gw nggak on-line. FISIP sepi nggak kayak biasanya. Ba'da Dzuhur gw ngaji bentaran (ngurangin dosa dikit2 ni ceritanya hehe..) pas gw menoleh ke kanan udah ada mas Yono, rupanya alquran do'i gw pake, beliau kayaknya udah maklum ama tabiat gw yg satu ini.
Sebelom keluar musola, gw ngeliat pemandangan di luar lewat jendela. Siang itu nggak gitu panas tapi sepi, nggak satupun orang yang gw kenal ada disana kecuali mas Yono. Tiba2 ada pikiran merasuk ke otak gw. "Wah.. kalo gw telat lulus gini kali ya rasanya", sepi dan terasing di kampus sendiri.
Hah.. dimana-mana gw terasing, atau ini tandanya gw mesti cepat beradaptasi dengan perubahan? segera akrab dengan orang-orang baru? Sialnya gw seorang introvert yg nggak supel.. =(
Continue Reading →

