Tuesday, June 21, 2016

Suatu Malam di Januari


Musim dingin mengusir matahari untuk lebih cepat pergi. Malam terasa panjang,dan aku masih terjaga hingga tengah malam. Dari jendela kamar, kulihat kemilau lampu jalan dan salju yang mencair. Suara riuh rendah orang asing kian meredup berganti deru angin Januari yang menusuk tulang.

Detak jam dinding terasa semakin kencang. Semakin kepejamkan mata, semakin bertubi-tubi kenangan itu datang. Bayang wajahmu. Samar suaramu. Hangat dekapmu. Aku rindu.
Aku bergetar memeluk tubuh sendiri, meringkuk di balik selimut.

Persoalan-persoalan itu terus memburu sampai aku kehabisan nafas. Menjerat langkahku menemuimu. Rupanya kesombongan telah mengutuk diriku. Aku timpang tanpamu. 
Aku ingin pulang...



Brearley House 5E, Sheffield
Januari 2015
Continue Reading →

Thursday, December 31, 2015

Tentang Sheffield (1)


Sheffield. Suatu tempat yang sebelumnya sangat asing buat saya, namun di sanalah nantinya pengalaman baru dan kejutan-kejutan tak terlupakan akan terjadi.

Berawal pada akhir 2013, ketika itu saya mendapat tawaran untuk melanjutkan studi S2 ke luar negeri dari kantor tempat saya bekerja. Sebelum berangkat saya bersama kawan-kawan diberikan pelatihan bahasa, pengetahuan akademik dan kultural sebagai bekal di tempat studi nantinya. Selama pelatihan tersebut saya juga mempersiapkan segala keperluan administrasi keberangkatan dan dokumen-dokumen untuk mendaftar di universitas yang dituju.

Di akhir pelatihan saya mencoba tes TOEFL iBT dan IELTS, namun akhirnya hanya nilai IELTS aja yang saya pakai. Nilai IELTS saya overall 6.5 dan ada satu komponen yang hanya 5.5 (speaking). Dengan modal nilai IELTS segitu gak semua universitas yang tadinya saya incer bisa saya penuhi English requirement-nya. Awalnya saya pingin ke London atau New York, namun apa daya nilai tidak mencukupi.

Dalam memilih kampus, pilihan saya fokuskan ke dua negara di eropa, Inggris dan Belanda, alasannya karena dua negara tersebut memiliki reputasi sistem pendidikan yang sangat baik. Percaya gak? Oke deh saya ngaku, sebenernya ada maksud terselubung pingin euro trip ;D

Dari sekian aplikasi yang saya ajukan saya mendapat letter of acceptance dari empat kampus, dua di UK (Bradford dan Sheffield) dan dua lagi di Belanda (Twente dan ISS Den Haag). Akhirnya saya pilih ke Inggris, lagi-lagi dengan alasan yang sangat prinsipil, mau nonton dan ziarah ke stadion-stadion klub English Premiere League ;D

Opsi antara Bradford dan Sheffield cukup membingungkan, secara ranking Sheffield yang tergabung dalam Russel group, memiliki peringkat lebih baik dan program yang ditawarkan juga menarik atau menantang lebih tepatnya, Governance and Public Policy. Nah tapi program Master of Public Administration di Bradford kurikulumnya lebih nyambung sama studi S1 saya sebelumnya serta nyambung pula dengan core business tempat saya kerja, dan udah ada dua teman kantor yang berencana ke sana saat itu.

Pilihan akhirnya jatuh kepada Sheffield. Yes, I chose to challenge myself, walopun nanti ada masa di mana saya bener-bener babak belur. Lebih lengkapnya ada di tulisan Tentang Sheffield Part 2.

Secara besaran populasi, Sheffield merupakan kota terbesar ke-empat di Inggris setelah London, Birmingham, dan Leeds. Namun Sheffield kalah atraktif dari tetangganya Manchester atau bahkan Liverpool. Dahulu Sheffield dijuluki Stainless Steel City, karena merupakan sentra industri baja termasuk senjata sebelum akhirnya dibom oleh Jerman saat Perang Dunia. Kini Sheffield lebih dikenal karena pesona alamnya dan keramahan penduduknya menurut survey yang ada. Mungkin karena alasan itu lah, seorang kawan pernah bilang kalo Sheffield itu semacam Jogjanya UK.

Kalo temen-temen pernah baca Novel tetralogi Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata, tentu pernah denger yang namanya desa Edensor. Ya, Edensor ada di countryside kota Sheffield. Sheffield memang daerah perbukitan dan tidak jauh dari sana ada taman nasional Peak District.


Nah itu dia sekilas tentang Sheffield, sekarang saatnya saya cerita tentang perjuangan bertahan hidup dalam artian perut maupun nasib akademik saat kuliah di Tentang Sheffield Part 2.
Continue Reading →

Wednesday, April 2, 2014

Yakin mau Golput?


"Bad politicians are sent to Washington by good people who don't vote"
~ William E. Simon

DPR periode 2009-2014 hanya mampu merampungkan UU sebanyak 15% dari target sejak 2009. UU yang dihasilkan pun banyak yang diajukan ke MK untuk diuji kembali dan banyak pihak yang menilai tidak pro rakyat. Selain itu DPR periode ini hobi mbolos, tapi rajin studi banding ke luar negeri (anggaran: 248,12 M). Itulah DPR produk pemilu legislatif 2009 dimana 37% rakyat Indonesia tidak menggunakan hak pilihnya alias golput.

Sayang rasanya kalau teman-teman yang educated dan punya akses informasi yang cukup tidak menggunakan hak pilih. Akhirnya tabulasi suara di KPU dipenuhi suara dari orang-orang yang memilih kandidat lantaran telah diberi 'amplop' atau paket sembako sebelum hari pemilihan.

So, upayakan untuk menggunakan hak pilih. Mungkin situasi yang dihadapi bukanlah memilih yang terbaik diantara yang baik/kompeten, tapi memilih mana yang paling mendingan diantara yang serba kekurangan bahkan geje.

Untuk menelusuri profil calon anggota legislatif maupun kandidat anggota DPD bisa akses:
jariungu.com
bersih2014.net
diasporamemilih.com (bagi yg ada di luar negeri)


"Some people want it to happen, some wish it would happen, others make it happen." 
~ Michael Jordan
Continue Reading →

Sunday, September 29, 2013

Pro Kontra Mobil Murah


Sesuai dengan rilis resmi dari Kemenperin, setidaknya ada lima tujuan diluncurkannya mobil murah/ LCGC (Low Cost and Green Car).

1. Mendorong pertumbuhan ekonomi.
2. Menyikapi Free Trade Area ASEAN dan Asia Timur 2015
3. Efisensi BBM
4. Membangun industri komponen
5. Pengembangan industri otomotif nasional.

Mari kita coba analisis satu per satu:

1. Mudahnya akses kepemilikan mobil diharapkan akan meningkatkan mobilitas dan aktivitas ekonomi juga investasi dan penyerapan tenaga kerja. Pertanyaannya, Apakah mobil murah ini adalah solusi utamanaya, bukankah peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur adalah leverage yang paling pas? Kekhawatiran lainnya ialah mobil ini masih belum terjangkau dengan daya beli masayarakat di daerah seperti di Papua atau Flores, walaupun katanya murah dan ramah lingkungan harganya tetap berkisar 100 juta dan tetap mengeluarkan emisi gas buang karena ini bukan mobil listrik.

2. Pemerintah khawatir kalau tidak menggulirkan LCGC saat ini juga, kita akan keduluan negara asia lainnya, pasar Indonesia pun kebanjiran mobil impor. Pertanyaannya, Kalau orientasinya ekspor kenapa pasar lokal sudah memesan (indent) sebesar 20.000 unit?


3. Mobil ini ditujukan untuk kalangan menengah bawah dan bahan bakarnya menggunakan BBM Non subsidi. Pertanyaannya, siapa yang bisa menjamin semua mobil LCGC itu tidak akan mengisi premium, lha wong sekarang aja banyak mobil mewah pakai premium bersubsidi? Kemudian kalau segmentasinya untuk kalangan menengah bawah kenapa tidak boleh menikmati BBM bersubsidi, nah mbulet kan jadinya.
Alasan efisiensi juga kurang tepat, karena walaupun tidak memakai BBM bersubsidi, konsumsi BBM tentu akan melonjak seiring banyaknya mobil LCGC. Belum lagi kalau dikaitan dengan depresiasi rupiah saat ini yang salah satu sebabnya semakin besarnya selisih jumlah impor dengan ekspor kita, maka segala kebijakan yang akan mendorong impor (BBM) akan menggerus rupiah.

4. Peserta program LCGC disyaratkan untuk manufaktur mobil di dalam negeri serta menggunakan komponen otomotif buatan dalam negeri. Pertanyaannya, apakah perushaan multi nasional otomotif ujug-ujug percaya dan mau pakai seluruh komponen lokal? Infrastruktur industri komponen dalam negeri hampir seluruhnya dikuasai oleh pemilik asing. Industri pribumi lokal tidak bisa berkembang karena tidak mampu (atau dirancang supaya tidak mampu) masuk ke standard yang mereka tetapkan. Industri dalam negeri didorong untuk masuk ke supplier lapisan kedua (second tier supplier), dalam second tier supplier nilai tambah dari engineering sangat rendah sehingga sulit menjadi besar.

5. Dalam PP No. 41/2013 disebutkan, bahwa LCGC memperoleh potongan PPnBM, dari 10% menjadi 0% bila memenuhi persyaratan konsumsi BBM dan pembuatan mobil serta komponen di dalam negeri. Pertanyaannya, Apakah yang dimaksud industri mobil nasional? Membuat mobil merk lokal, atau merakit mobil merk asing di Indonesia? Menurut saya yang dimaksud mobil nasional adalah yang benar-benar dirintis oleh putera-puteri Indonesia semisal Esemka, bukan seperti mobil impor dari korea yang dinamakan Timor, bukan juga mobil asing yang dirakit di Indonesia.

Tentu maksud pemerintah sangat mulia, dan tulisan ini pun dimaksudkan untuk memberi pertimbangan agar kebijakan ini tidak menjadi backfire. Jangan sampai yang terjadi adalah kemacetan yang semakin parah di kota-kota besar, pencemaran lingkungan karena polusi udara, konsumsi BBM yang mendorong impor BBM berlebihan, dan manisnya pembangunan tidak merembes kepada masyarakat bawah sementara pebisnis asing manikmati huge profit gain.
Continue Reading →

Sunday, September 15, 2013

Neologisme ala Vicky Prasetyo





Beberapa hari terakhir media sosial heboh membicarakan Vicky, khususnya gaya bicaranya. Bermula dari sebuah video keterangan pers Vicky mengenai pertunangannya dengan artis dangdut Zascia Gotik yang menggunkan kalimat yang sulit dipahami.
Seperti:

"Di usiaku ini, twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi, karena basically, aku senang musik, walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih,"

"Kita belajar, harmonisisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikir kita enggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan."

"Dengan adanya hubungan ini, bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia, tapi menjadi confident. Tapi kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik."

atau saat ia berpidato di Pilkades Karang Asih:

"My name is Hendrianto. I'm froms the birthday in Karang Asih, Karang Asih City. I have to my mind, i have to my said, i'm get to the good everything," kata Vicky dengan bahasa inggris yang berapi-api.

"If wanna come to inpest, xxx (tidak jelas) come to place. America, Europe and everything Japanese and Asia, i'm ready fot the dewrrw," tambah pria yang kini mendekam di penjara karena kasus penipuan
"My name is Hendrianto. I'm froms the birthday in Karang Asih, Karang Asih City. I have to my mind, i have to my said, i'm get to the good everything,".

"If wanna come to infest, come to place. America, Europe and everything Japanese and Asia, i'm ready fot the dewrrw,".
"Di usiaku ini, twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi, karena basically, aku senang musik, walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya," kata Vicky.

"Kita belajar, apa ya, harmonisisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikir kita enggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan."

"Dengan adanya hubungan ini, bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia, tapi menjadi confident. Tapi kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik dan aku sangat bangga."
Dari pernyataan Vicky yang membuat kita bingung campur geli, saya mencoba mencari penjelasan ilmiahnya. Fenomena atau behavior/mind disorder macam apa ini?

Ada satu istilah yang namanya Neologism, di wikipedia didefinisikan:
"a newly coined term, word, or phrase, that may be in the process of entering common use, but has not yet been accepted into mainstream language. In psychiatry, the term neologism is used to describe the use of words that have meaning only to the person who uses them, independent of their common meaning, this tendency is considered normal in children, but in adults can be a symptom of psychopathy or a thought disorder".
Apakah yang dilakukan Vicky termasuk Neogolisme? kalian bisa coba nilai sendiri.

Beberapa orang memang suka bicara dengan menyisipkan banyak istilah kontemporer dan bahasa Inggris. Tidak jadi masalah kalau penggunaannya tepat dan tidak berlebihan, tapi kalau sebaliknya seperti yang dilakukan Vicky, itu justru akan mengaburkan makna.

Bukankah esensi dari komunikasi adalah tersampaikannya pesan kepada komunikan sesuai yang komunikator maksudkan? 

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa banyak orang bertindak seperti itu? (sepengetahuan saya banyak dan sejauh ini Vicky adalah contoh paling ekstrim yang pernah saya temui), biar dianggap intelek? terpelajar? atau apa?

Menurut saya justru orang yang cerdas adalah orang yang mampu menjelaskan hal yang sangat kompleks sekalipun dengan cara dan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami orang lain.


"Di usiaku ini, twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi, karena basically, aku senang musik, walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya," kata Vicky.

"Kita belajar, apa ya, harmonisisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikir kita enggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan."

"Dengan adanya hubungan ini, bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia, tapi menjadi confident. Tapi kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik dan aku sangat bangga." - See more at: http://www.kabar24.com/showbiz/read/20130910/39/200106/muncul-video-kocak-vicky-prasetyo-pidato-pakai-bahasa-inggris-berantakan#sthash.ruLlfWFC.dpuf
Continue Reading →